LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN VEKTOR
MENGHITUNG KEPADATAN LALAT

Disusun oleh :
NIM : J410140044
Kelas/Shift : B/B ke C
PROGRAM STUDI
KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU
KESEHATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
A. PENDAHULUAN
1. LATAR
BELAKANG
Dalam upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan
kesehatan lingkungan, salah satu kegiatannya adalah pengendalian vektor
penyakit. Pengendalian vektor penyakit merupakan tindakan pengendalian
untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh
binatang pembawa penyakit, seperti lalat. Lalat adalah hewan yang dapat dijumpai dimana saja, hampir
dapat di temukan di semua tempat. Lalat dapat mengancam kesehatan manusia
dengan cara memindahkan penyakit sehingga lalat sebagai perantara penyakit.
Lalat terbang dan hinggap diberbagai tempat, termasuk ke tempat-tempat yang
kottor dan membawa patogen dari tempat tersebut, yang kemudian hinggap di
makanan manusia (penyebaran mekanis). Dengan adanya lalat sebagai pembawa dan
penyebar penyakit pada manusia, melalui penularan secara mekanis menyebabkan
myasis sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung penyediaan tempat
perkembangbiakannya. Penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat beberapa diantaranya
adalah jenis food/waterborne seperti kolera, tipes, dan disentri. Indonesia memiliki
dua iklim yang merupakan daerah tropis sehingga lalat untuk dapat
berkembangbiak dengan baik. Dalam melakukan
pengendalian perlu juga dilakukan pengukuran tingkat kepadatannya dimana data
ini dapat dipakai untuk merencanakan upaya pengendalian yaitu tentang kapan,
dimana, dan bagaimana pengendalian akan dilakukan. Perhitungan kepadatan lalat pada suatu tempat merupakan
hal yang penting karena lalat sebagai salah satu indikator sebuah tempat bersih
atau tidak. . Dalam menetukan kepadatan lalat, pengukuran terhadap populasi
lalat dewasa tepat dan biasa diandalkan daripada pengukuran populasi larva
lalat. Untuk itu diperlukan praktikum pengukuran kepadatan lalat disuatu tempat
untuk menentukan apakah daerah tersebut potensial untuk terjadinya fly borne
diseases atau tidak. Metode pengukuran kepadatan lalat yang sederhana adalah
dengan menggunakan alat flygrill. Prinsip kerja dari alat ini didasarkan pada
sifat lalat yang menyukai hinggap pada permukaan benda yang bersudut tajam
vertikal. Lokasi yang perlu dilakukan pengukuran kepadatan lalat adalah tempat
pembuangan sampah dan peternakan. Upaya untuk menurunkan populasi lalat adalah
sangat penting, mengingat dampak yang ditimbulkan yaitu sebagai vektor pembawa
penyakit. Untuk itu sebagai salah satu cara penilaian baik buruknya suatu
lokasi adalah dilihat dari angka kepadatan lalatnya.
2. TUJUAN
a) Mengetahui
berapa pentingnya lalat sebagai vektor penyakit.
b) Mengetahui
populasi kepadatan lalat di suatu wilayah tertentu.
B. ALAT
DAN BAHAN
1. Fly
grill
2. Counter
3. Stop
watch
4. Masker
5. Sarung
tangan
C. HASIL
DAN PEMBAHASAN
Menghitung
kepadatan lalat dengan menentukan lokasi terlebih dahulu untuk menghitung
kepadatan lalat yaitu lokasi pertama pada PTS dengan meletakkan flygrill pada 4
titik ( selatan, utara, timur dan bagian tengah PTS ) dan lokasi kedua berada dikandang burung puyuh dengan 4 titik
peletakan fly grill. Fly
grill merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat di suatu
tempat. Fly grill dapat dibuat dari bilah-bilah kayu yang lebarnya 1,9 cm dan
tebalnya 1,5 cm dengan panjang masing masing 82 cm sebanyak 21 dan dicat dengan
warna kuning, putih ataupun merah. Bilah-bilah yang telah disiapkan dibentuk
berjajar dengan jarak 2,2 cm pada kerangka kayu yang telah disiapkan dan
pemasangan bilah kayu pada kerangkanya yang dapat dibongkar pasang. Fly grill
dipakai untuk mengukur tingkat kepadatan lalat dengan cara meletakkan Fly grill
pada tempat yang akan diukur kepadatan lalatnya. Kemudian dihitung jumlah lalat
yang hinggap di atas Fly grill dengan menggunakan alat penghitung (hand
counter ) selama 30 detik. Sedikitnya pada setiap lokasi dilakukan
10 kali perhitungan kemudian dari 5 kali hasil perhitungan lalat yang tertinggi
dibuat rata ratanya dan dicatat dalam kartu hasil perhitungan .
Hal utama yang harus disiapkan alat dan bahan yaitu terdiri dari flygrill,
counter, stop watch dan APD. Kemudian menentukan lokasi untuk meletakkan
flygrill pada tempat yang populasi lalatnya tinggi. Kemudian menghitung jumlah lalat yang hinggap di atas Fly
grill dengan menggunakan alat penghitung counter selama 30 detik yang
dilakukan 10 kali perhitungan kemudian dari 5 kali hasil perhitungan lalat yang
tertinggi dibuat rata ratanya dan dicatat dalam kartu hasil perhitungan. Ulangi
ditempat yang berbeda sebanyak 4 tempat yang berbeda dengan setiap setiap
tempat dilakukan penghitungan selama 30 detik sebanyak sepuluh kali titik.
Pengendalian vektor
penyakit merupakan tindakan pengendalian untuk mengurangi atau melenyapkan
gangguan yang ditimbulkan oleh binatang pembawa penyakit, seperti lalat. Saat ini banyak sekali metode pengendalian lalat yang telah dikenal dan
dimanfaat kan oleh manusia. Prinsip dari metode pengendalian lalat adalah pengendalianitu dapat mencegah perindukan
lalat yang dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan manusia. Penularan penyakit dapat terjadi melalui semua bagian dari tubuh lalat
seperti: bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan serta faecesnya. Dalam
upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan
kesehatan lingkungan, salah satu kegiatannya adalah pengendalian vektor
penyakit.
Lalat adalah
salah satu insekta ordo diptera yang
mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Saat ini telah ditemukan tidak
kurang dari 60.000 sampai 100.000 spesies lalat. Namun tidak semua spesies ini
perlu diawasi, karena beberapa diantaranya tidak berbahaya bagi manusia
ditinjau dari segi kesehatan.
Lalat umumnya
mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang digunakan untuk
menjaga stabilitas saat terbang. Lalat sering hidup diantara manusia dan
sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius. Lalat disebut penyebar
penyakit yang sangat serius karena setiap saat hinggap di suatu tempat, kurang
dari lebih 125.000 kuman yang jatuh ke tempat tersebut. Lalat sangat
mengandalkan penglihatan untuk bertahan hidup. Mata majemuk lalat terdiri atas
ribuanlensa dan sangat peka terhadap gerakan. Beberapa jenis lalat memiliki
penglihatan tiga dimensi yang akurat. Lalat
banyak jenisnya, tetapi paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat
rumah Musca domestica. Lalat ini biasanya hidup disekitar manusia dan
aktivitas-aktivitas manusia. Jenis lalat penting dilihat dari kesehatan
masyarakat, karena dapat menularkan 100 jenis patogen yang dapat mengakibatkan
penyakit pada manusia. Beberapa penyakit akibat lalat antara lain diarrhea,
dysenterie basillaris, typhus abdominalis, amoebiasis, cholera, ascaris, dan
ancylostomiasis. Cara hidup, biologi, dan tingkah laku setiap spesies lalat
pada dasarnya antara satu dengan lainnya adalah sama. Tempat perkembangbiakan
lalat adalah tempat kotor. Pengetahuan tentang biologi, tingkah laku dan jenis
lalat akan membantu usaha pengendalian dan penanggulangannya. Pemberantasan
lalat melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Sampah sangat erat hubungannya
dengan timbul dan berkembangnya lalat itu sendiri. Oleh karena itu
pemberantasan lalat akan melibatkan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan
sampah maka masalah lalat juga merupakan masalah sosial. Karena itu dalam
penanganannya perlu melibatkan masyarakat secara bersama-sama. Sampah yang
mudah membusuk (garbage) merupakan media tempat berkembang biaknya lalat.
Bahan-bahan organic yang membusuk, baunya merangsang lalat untuk datang
mengerumuni karena bahan-bahan yang membusuk tersebut merupakan makanan mereka.
1.
Siklus hidup lalat melalui 4
stadium yaitu :
a)
Telur
Telur
diletakkan pada bahan-bahan organik yang lembab (sampah,kotoran binatang, dll)
pada tempat yang tidak langsung terkena sinar matahari. Telur berwarna putih
dan biasa menetas setelah 8-30 jam, tergantung dari suhu sekitarnya

Telur lalat
b)
Larva
Pada stadium larva terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:
Tingkat I : Telur yang jadi
menetas, disebut instar I, berukuran panjang 2 mm, berwarna putih, tidak
bermata dan berkaki sangat reaktif dan ganas terhadap makanan, setelah 1-4 hari
melepas kulit dan keluar menjadi instar II (Dianing, 2010).
Tingkat
II : Ukuran besarnya 2 kali instar I,
sesudah satu sampai beberapa hari, kulit mengelupas menjadi instar III
(Dianing, 2010).
Tingkat
III : Larva berukuran 12 mm atau lebih,
tingkat ini memakan waktu 3-9 hari (Dianing, 2010).

Larva
Lalat
c)
Pupa (Kepompong)
Pada
masa kepompong, jaringan tubuh larva berubah menjadi jaringan tubuh dewasa.
Stadium ini berlangsung 3-9 hari. Suhu yang disukai ± 35° C. Setelah stadium
ini selesai, keluar lalat muda melalui celah lingkaran pada bagian anterior
(Dianing, 2010).

Pupa lalat
d) Lalat dewasa
Proses pematangan menjadi lalat dewasa ± 15 jam, setelah itu siap
untuk mengadakan perkawinan. Seluruh waktu yang diperlukan 7-22 hari.
Tergantung pada suhu setempat, kelembaban, dan
makanan yang tersedia. Jarak terbang efektif adalah 450-900 meter. Lalat
tidak kuat terbang menantang arah angina, tetapi sebaliknya lalat akan terbang
mencapai 1 km (Dianing, 2010).

Lalat
Dewasa
2.
Pola
Hidup Lalat Adapun pola hidup lalat adalah sebagai berikut :
a) Tempat Perindukan Tempat yang
disenangi lalat adalah tempat basah, benda-benda organik, tinja,sampah basah,
kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk. Kotoran yang menumpuk secara kumulatif
sangat disenangi oleh lalat dan larva lalat, sedangkan yang tercecer dipakai
tempat berkembang biak lalat.
b) Jarak Terbang. Jarak terbang sangat
tergantung pada adanya makan yang tersedia.Jarak terbang efektif adalah 450 -
900 meter. Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya
lalat akan terbang mencapai 1 km.
c) Kebiasaan Makan Lalat dewasa sangat
aktif sepanjang hari, dari makanan yang satu ke makanan yang lain. Lalat sangat
tertarik pada makan yang dimakan oleh manusia sehari-hari, seperti gula, susu,
dan makanan lainnya, kotoran manusia serta darah. Sehubungan dengan bentuk
mulutnya, lalat hanya makan dalam bentuk cair atau makan yang basah,
sedangkan makan yang kering dibasahi oleh ludahnya terlebih dahulu lalu
dihisap.
d) Tempat Istirahat Pada siang hari,
bila lalat tidak mencari makan, mereka akan beristirahat pada lantai, dinding,
langit-langit, jemuran pakaian, rumput-rumput, kawat listrik, serta
tempat-tempat dengan yang tepi tajam dan permukaannya vertikal. Biasanya tempat
istirahat ini terletak berdekatan dengan tempat makannya atau tempat berkembang
biaknya, biasanya terlindung dari angin. Tempat istirahat tersebut
biasanya tidak lebih dari 4,5 meter di atas permukaan tanah.
e) Lama Hidup Pada musim panas, berkisar
antara 2-4 pekan. Sedangkan pada musim dingin bisa mencapai 20 hari.
f) Temperatur Lalat mulai terbang pada
temperatur 15oC dan aktifitas optimumnya pada temperatur 2oC.Pada temperatur di
bawah 7,5oC tidak aktif dan diatas 45oC terjadi kematian.
g) Kelembaban Kelembaban erat kaitannya
dengan temperatur setempat.
h) Cahaya Lalat merupakan serangga yang
bersifat fototrofik, yaitu menyukai cahaya. Pada malam hari tidak aktif,
namun dapat aktif dengan adanya sinar buatan.
Selanjutnya angka rata rata hasil
perhitungan digunakan sebagai petunjuk (indeks) populasi pada satu lokasi
tertentu. Sedangkan sebagai interpretasi hasil pengukuran indeks populasi
lalat pada setiap lokasi ( Blok Grill ) sebagai berikut :
a) 0-2 : Rendah atau tidak menjadi
masalah
b) 3-5 : Sedang dan perlu dilakukan
pengamanan terhadap tempat tempat berkembangbiakan lalat ( tumpukan sampah
, kotoran hewan dan lain lain )
c) 6-20 : Tinggi / padat dan perlu
pengamanan terhadap tempat tempat berkembangbiakan lalat dan bila mungkin
direncanakan upaya pengandaliannya.
d) >21 : Sangat tinggi / sangat
padat dan perlu dilakukan pengamanan terhadap tempat tempat
perkembangbiakan lalat dan tindakan pengendalian lalat.
Lalat menyukai tempat-tempat yang
berbau menyengat dan tempat yang cukup lembab. Sedangkan,warna yang disukai
lalat umumnya adalah warna natural seperti warna cokelat pada batang dan hijau
seperti buah atau sayur segar. Keberadaan lalat memang cukup mengganggu, tidak
hanya dalam estetika saja, tetapi juga menyebabkan berbagai penyakit.
Penyebaran penyakit akibat dari lalat memeili keterkaitan yang sangat erat.
Maka dari itu kami menggunakan fly grill untuk mengetahui jumlah kepadatan
lalat yang ada di PTS dan kandang burung puyuh.
3.
Jenis-jenis lalat antara lain :
a) Lalat rumah (Musca domestica)
Ini jenis lalat yang paling
banyak terdapat diantara jenis-jenis lalat rumah. Karena fungsinya sebagai
vektor tranmisi mekanis dari berbagai bibit penyakit disertai jumlahnya yang
banyak dan hubungannya yang erat dengan lingkungan hidup manusia, maka jenis
lalat musca domestica ini merupakan jenis lalat yang terpenting ditinjau dari
sudut kesehatan manusia. Dalam waktu 4-20 hari setelah muncul dari stadium
larva, lalat betina sudah bisa mulai bertelur. Telur-telur putih, berbentuk
oval dengan ukuran panjang ± 1 mm. Setiap kali bertelur diletakkan 75-150 telur
Seekor lalat biasanya
diletakkkan dalam retak-retak dari medium pembiakan pada bagian-bagian yang
tidak terkena sinar matahari. Pada suhu panas telur-telur ini menetas dalam
waktu 12-24 jam dan larva-larva yang muncul masuk lebih jauh ke dalam medium
sambil memakannya. Setelah 3-24 hari, biasanya 4-7 hari, larva-larva itu
berubah menjadi pupa. Larvalarva akan mati pada suhu yang terlalu panas. Suhu
yang disukai ± 30-350C, tetapi pada waktu akan menjadi pupa mereka
mencari tempat-tempat yang lebih dingin dan lebih kering. Pupa berbentuk
lonjong ± 7 mm panjang, dan berwarna. merah coklat tua. Biasanya pupa terdapat
pada pinggir medium yang kering atau didalam tanah. Stadium pupa berlangsung
4-5 hari, bisa juga 3 hari pada suhu 350C atau beberapa minggu pada
suhu rendah. Lalat dewasa keluar dari pupa, kalau perlu menembus keluar dari
tanah, kemudian jalan-jalan sampai sayap-sayapnya berkembang, mengering dan
mengeras. Ini terjadi dalam waktu 1 jam pada suhu
panas sampai 15 jam untuk ia bisa terbang. Lalat dewasa bisa kawin setiap saat setelah ia bisa terbang dan bertelur dalam waktu 4-20 hari setelah keluar dari pupa. Jangka waktu minimum untuk satu siklus hidup lengkap 8 hari pada kondisi yang menguntungkan. Lalat rumah bisa membiak disetiap medium yang terdiri dari zat organik yang lembab dan hangat dapat memberi makan pada larva-larvanya. Medium pembiakan yang disukai ialah kotoran kuda, kotoran babi dan kotoran burung. Yang kurang disukai ialah kotoran sapi. Lalat rumah juga membiak di excreta manusia yang terdapat dikakus atau tempat-tempat lain, dan karena excreta manusia ini juga mengandung organisme patogen maka ia merupakan medium pembiakan yang paling berbahaya. Juga sludge dari air kotor yang digesti sempurna bisa menjadi medium pembiakan lalat rumah.
panas sampai 15 jam untuk ia bisa terbang. Lalat dewasa bisa kawin setiap saat setelah ia bisa terbang dan bertelur dalam waktu 4-20 hari setelah keluar dari pupa. Jangka waktu minimum untuk satu siklus hidup lengkap 8 hari pada kondisi yang menguntungkan. Lalat rumah bisa membiak disetiap medium yang terdiri dari zat organik yang lembab dan hangat dapat memberi makan pada larva-larvanya. Medium pembiakan yang disukai ialah kotoran kuda, kotoran babi dan kotoran burung. Yang kurang disukai ialah kotoran sapi. Lalat rumah juga membiak di excreta manusia yang terdapat dikakus atau tempat-tempat lain, dan karena excreta manusia ini juga mengandung organisme patogen maka ia merupakan medium pembiakan yang paling berbahaya. Juga sludge dari air kotor yang digesti sempurna bisa menjadi medium pembiakan lalat rumah.
Disamping itu sampah yang
ditumpuk di tempat terbuka karena mengandung zat-zat organic merupakan medium
pembiakan lalat rumah yang penting. Lalat rumah bisa terbang jauh dan bisa
mencapai jarak 15 km dalam waktu 24 jam. Sebagian terbesar tetap berada dalam jarak
1,5 km di sekitar tempat pembiakannya, tetapi beberapa bisa sampai sejauh 50
km. Lalat dewasa hidup 2-4 minggu pada musim panas dan lebih lama pada musim
dingin, mereka paling aktif pada suhu 32,50C dan akan mati pada suhu
450C. Mereka melampaui musim dingin (over wintering) sebagai lalat dewasa, dan berkembang biak di
tempat-tempat yang relatif terlindung seperti kandang ternak dan gudang-gudang.
b) Lalat Kandang (Stomoxys
calcitrans)
Menurut Sucipto
(2011) bahwa, lalat kandang:
1) Lalat ini bentuknya menyerupai lalat rumah tetapi
berbeda pada struktur mulutnya yang berfungsi menusuk dan menghisap darah.
2) Lalat ini merupakan penghisap darah ternak yang dapat
menurunkan produksi susu. Kadang-kadang menyerang manusia dengan menggigit pada
daerah lutut atau kaki bagian bawah.
3) Lalat kandang dewasa berukuran panjang 5-7 mm,
mempunyai bagian mulut (proboscis)
meruncing untuk menusuk dan menghisap darah.
4) Bagian toraksnya terdapat garis
gelap yang diantaranya berwarna terang.
5) Sayapnya
mempunyai vena 4 yang melengkung tidak tajam ke arah kosta mendekati vena 3.
6) Antenanya terdiri atas tiga ruas, ruas terakhir paling
besar, berbentuk silinder dan dilengkapi dengan arista yang memiliki bulu hanya pada bagian atas.Siklus hidup dari
lalat kandang juga hampir sama dengan siklus hidup lalat pada umumnya. Yang
membedakannya yakni pada lama berlangsungnya siklus, jarak terbang, serta ada
siklus pradewasa (pupa). Dan cenderung menghisap darah. Tahap larva berlangsung
selama 1-3 minggu, kemudian menjadi pupa dan akan muncul stadium pradewasa
setelah satu minggu atau lebih, dan siklus hidup berkisar 3-5 minggu pada
kondisi optimal. Saat dewasa lalat ini menghisap darah hewan dan cenderung
tetap di luar rumah di tempat yang terpapar sinar matahari serta termasuk
penerbang yang kuat dan bisa melakukan perjalanan jauh dari tempat perindukan.
c)
Lalat Hijau (Phenisial)
Menurut Sucipto
(2011) bahwa Lalat hijau termasuk kedalam family
Calliphoridae serta terdiri atas banyak jenis, umumnya berukuran dari
sedang sampai besar dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Warna hijau, abu-abu, perak mengkilat atau abdomen
gelap.
2) Lalat ini berkembang biak di bahan yang cair atau semi cair yang berasal
dari hewan dan jarang berkembang
biak di tempat kering atau bahan buah-buahan.
3) Jantan berukuran panjang 8 mm, mempunyai mata merah
besar.
4) Lalat ini dilaporkan juga membawa telur cacing Ascaris lumbriocoides, Trichuris trichiura dan cacing kait pada
bagian tubuh luarnya dan pada lambung
lalat.
d)
Lalat Daging (Sarchopaga)
Menurut Sucipto
(2011) bahwa Lalat daging termasuk dalam family
Sarcophagidae dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Berwarna abu-abu tua, berukuran sedang sampai besar, kira-kira 6-14 mm
panjangnya.
2) Lalat ini mempunyai tiga garis gelap pada bagian
dorsal toraks, dan perutnya mempunyai corak seperti papan catur.
3) Bersifat viviparous
dan mengeluarkan larva hidup pada tempat perkembangbiakannya seperti daging,
bangkai, kotoran dan sayuran yang sedang membusuk.
4) Siklus hidup lalat ini berlangsung 2-4 hari.
Lambungnya mengandung telur cacing Ascaris
lumbricoidesdan cacing cambuk.
e)
Lalat Kecil (Fannia)
Lalat Fannia canicularis dan Fannia scalaris dikenal dengan nama Litte house flies. Lalat ini berkembang
biak di tempat kotoran basah hewan piara, orang atau unggas, atau buah-buahan
yang sedang membusuk. Lalat ini lebih menyukai keadaan sejuk dan lebih lembab
dibandingkan jenis-jenis Musca. Lalat
ini juga menghabiskan waktunya lebih banyak di dalam hunian manusia, dan tempat
jantan berkeliling di sekitar lampu-lampu yang menggantung (Sucipto, 2011).Pada
umumnya segala jenis atau spesies lalat memiliki kecenderungan pola hidup dan
siklus hidup yang hampir sama. Namun pada keadaan-keadaan tertentu dan
tempat-tempat tertentu ada lalat yang mampu bertahan kuat dibandingkan dengan
lalat-lalat yang lainnya. Tapi hal ini tidak mempungkiri bahwa spesies-spesies lalat yang telah
disebutkan diatas merupakan vektor pembawa penyakit dan merupakan hewan
pengganggu yang harus dikendalikan sehingga perlu diketahui siklus dan pola
hidupnya agar mudah untuk dikendalikan
D. KESIMPULAN
Berdasarkan
praktikum survey kepadatan lalat dapat disimpulkan bahwa lalat merupakan serangga
dari ordo Diptera yang mempunyai sepasang sayap biru berbentuk membran. Survei
lalat dilakukan dengan menggunakan alat fly grill pada 8 titik yang berbeda di
tiga tempat yang dianggap sebagai sarang perkembangbiakan lalat di Kartasura.
Dari kedua tempat tersebut antara lain TPS Terminal Kartasura dan kandang
burung puyuh. Lokasi TPS Terminal Kartasura memperoleh jumlah rata-rata 49,6.
Dengan hasil 49,6 tersebut, maka di lokasi TPS Terminal Kartasura termasuk
dalam kategori sangat tinggi yang membuktikan bahwa populasi padat dan perlu
pengamanan tempat berbiaknya lalat dan tindakan pengendalian. Sedangkan di
Kandang burung puyuh memperoleh jumlah rata-rata 54,2. Dengan hasil 54,2
tersebut, maka di lokasi kandang burung puyuh termasuk dalam kategori sedang
yang membuktikan bahwa di kandang puyuh dalam kategori sangat tinggi. Kartasura
perlu dilakukan pengamatan tempat berbiaknya lalat. Dari kedua tempat
penghitungan yang berbeda, kandang burung puyuh yang merupakan populasi lalat
terpadat dengan rata-rata 54,2. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pengamanan tempat berbiaknya lalat dan perlu dilakukan pengendalian vektor
lalat di kandang burung puyuh. Tingginya populasi kepadatan lalat diperlukan
penanganan tindakan pengendalian dan perlu pengamanan tempat berbiaknya lalat,
sehingga nantinya lalat tersebut tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan dan
masyarakat sekitar.
E.
SARAN
Pengukuran kepadatan lalat sebaiknya dilakukan pada
pagi hari karena pada saat siang hari populasi lalat akan semakin berkurang dan
ketika aktifitas manusia yang tidak padat pada dititik yang diukur juga akan
mempengaruhi adanya lalat yang menempel pada flygrill.
DAFTAR PUSTAKA
Devi Nuraini Santi. 2010. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas
Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Medan
Isna Nuraini. 2013. Laporan
Praktkum Parasitologi Tentang Identifikasi Lalat. Politeknik Kemenkes Yogyakarta. Yogyakarta.
Jannah, Dewi Nur. (2006).
Perbedaan Kepadatan Lalat pada Berbagai Warna Fly
Grill
.http://www.adln.fkm.unair.ac.id/gdl .php?mod=browse&op=read&id=adlnfkm-adln-s2-2006-dewinurjan-283 (Diakses tanggal 23 Oktober 2015)
Putri
Dianing Wijayanti. 2010. Hubungan
Kepadatan lalat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.
Jakarta
Sucipto, CD.2011. Vektor Penyakit Tropis. Gosyen
Publishing. Yogjakarta
Cukup Bagus...
BalasHapus